
Suara tangis menahan lapar menggema di Panti Asuhan .Suara itu berasal dari 23 bayi dan balita yang “dibuang” orang tuanya sejak lahir.
“Disini, banyak bayi hasil hamil diluar nikah yang ditinggal orang tuanya. Ada juga yang lahir prematur, baru usia 7 bulan sudah dibawa ke panti. Anak-anak yang hampir jadi korban aborsi juga ada, mereka ditinggal ayahnya yang gak mau bertanggung jawab.. ” ucap pengurus panti.
MIRIS! Anak-anak ini tak akan pernah melihat wajah kedua orang tuanya lagi. Mereka juga tak akan merasakan pelukan hangat ayah dan ibu sampai kapan pun. Yang mereka ingat hanya rasa dingin dan kelaparan saat diletakkan dalam kardus dan ditinggal di depan halaman panti.
Siapapun yang melihat kondisi anak-anak panti ini pasti tersayat hatinya. Saat diluar sana banyak ibu berjuang untuk memiliki anak, puluhan bayi ini justru ditelantarkan sejak lahir. Kehadiran mereka tidak diinginkan dan kini harus hidup prihatin di panti asuhan.
Setiap bulan, panti asuhan sering kekurangan susu dan MPASI. Untuk menggantikannya mereka terpaksa kasih air gula dan nasi yang dihaluskan. Yang paling parah, anak umur 4-5 tahun sering makan nasi pakai mie instan. Hanya sesekali mereka bisa minum susu, makan nasi pakai telur, tahu atau tempe.
Selain kebutuhan gizi yang semakin membengkak, setiap bulan pemilik panti harus menyisihkan biaya untuk membeli keperluan lain seperti pampers, vitamin, obat-obatan hingga biaya sewa panti.
Sayangnya, mereka tidak memiliki donatur tetap. Setiap bulan, bantuan yang datang juga semakin berkurang. Satu per satu donatur pergi, membuat kondisi panti semakin terpuruk. Jika panti kehabisan dana, kemana puluhan bayi & balita ini berlindung?
![]()
Menanti doa-doa orang baik