
“Ada lansia tunanetra yang masih berjualan es potong…”
“Ada pula kakek berusia 90 tahun yang memikul beban anyaman bambu…”
“Dan seorang lansia yang tetap menjajakan telur meski sakit diabetes…”
Yang mereka bawa setiap hari bukan cuma dagangan. Ada sakit, usia, dan kebutuhan hidup yang ikut mereka pikul. Hari ini, ketiga lansia ini tak butuh dikasihani. Mereka butuh bantuan kita untuk meringankan beban yang terlalu berat untuk dipikul sendirian.
Ini kisah Abah Mistarum, seorang penjual es potong yang gigih, terus berjuang untuk menghidupi dirinya dan cucu perempuannya yang yatim piatu. Dengan keadaan tunanetra dari lahir dan kesulitannya berjualan dengan segala keterbatasannya, ia tetap gigih menawarkan es potong seharga 2000 rupiah kepada siapa saja yang lewat.

Setiap hari, Abah Mistarum bangun pagi-pagi, menyiapkan es potong, dan pergi ke tempat biasanya berjualan. Ia hanya mengandalkan suara dan sentuhan untuk mengetahui apa yang terjadi di sekitarnya. Meskipun hidupnya tidak mudah, Abah Mistarum tidak pernah menyerah.

Dalam sehari, Abah Mistarum hanya bisa meraih keuntungan 20.000-30.000 rupiah, dan itu pun jika ia beruntung. Jika sepi pembeli, ia tidak membawa sepeser uang pun ke rumah. Namun, ia tidak pernah mengeluh. Baginya, yang penting adalah ia bisa memberikan makan dan minum kepada cucu perempuannya.
Selain itu ada Kakek Mahmud, beliau berusia 91 tahun dengan tubuh yang sudah sangat membungkuk,beliau memikul beban tumpukan topi dan tampah anyaman bambu setiap harinya. Menapakkan kaki di atas panas dan kerasnya aspal.

Setiap hari adalah perjuangan fisik yang luar biasa bagi Kek Mahmud, ia berangkat pukul 05.00 pagi saat udara masih dingin, dan baru kembali pukul 22.00 malam, menjajahkan Topi dan tampah tradisional hasil anyaman sendiri demi bertahan hidup. Dari 17 jam berkeliling, Pak Mahmud seringnya hanya membawa pulang keuntungan bersih paling hanya Rp20.000 per hari

Uang Rp20.000 itu harus dicukup-cukupkan untuk makan berdua bersama istrinya. Bayangkan, di usia hampir satu abad, beliau masih harus memeras keringat demi sesuap nasi agar tidak merepotkan orang lain.

Belum cukup, masih ada Abah Token, seorang lansia yang harus berjuang melawan penyakit yang dideritanya, yaitu diabetes dan sakit mata yang sudah puluhan tahun. Mata yang sering terasa gatal membuatnya tidak nyaman, tapi dia tidak bisa berhenti bekerja.

Abah Token adalah seorang penjual telur ayam yang berjuang keras untuk menghidupi keluarganya. Meskipun hidup berdua dengan istrinya, mereka tidak memiliki anak yang bisa membantu meringankan beban hidup. Kehidupan Abah Token tidaklah mudah, setiap hari dia harus berhadapan dengan ketidakpastian penghasilan dari berjualan telur.

Harga telur yang dijualnya hanya 3000 rupiah per butir, dan tidak selalu laku. Terkadang, dia hanya bisa membawa pulang uang 20.000, atau bahkan tidak membawa uang sama sekali jika hari itu sepi atau hujan. Untuk menambah penghasilan, Abah Token sampai harus bekerja sampingan sebagai buruh pakan sapi dengan upah 10.000 rupiah per karung. Semua itu dia jalani hanya untuk menyambung harinya, ditengah ketidakpastian akan penyakitnya.

Jika hari ini kita bisa meringankan satu beban mereka, mengapa tidak? Mari berdonasi dan bantu tiga lansia ini. Satu donasi dari kita mungkin terlihat kecil, tapi bagi mereka bisa berarti makan hari ini, berobat, atau sekadar menjalani hari tanpa terlalu banyak khawatir. Mari ulurkan tangan kita.